Kemanapun gadis manis anak kelas 4 itu pergi, anak lelaki itu selalu membuntutinya. Mereka seangkatan namun berbeda kelas. Tidak heran, gadis kecil itu memang baik hati, senang menolong temannya dan hangat pada siapapun. Banyak anak laki-laki yang menyukainya, termasuk anak lelaki dengan kebutuhan khusus (mild autism) yang selalu membuntutinya itu.
Setiap pagi, anak lelaki itu selalu menunggu di tengah sekolah, matanya berjaga untuk memastikan arah datangnya sang pujaan hati. Mulanya, si gadis kecil itu tidak terlalu memusingkan anak lelaki itu. Tapi ketika anak lelaki itu bahkan mulai menunggu di depan toilet perempuan saat dia kesana dan mulai mengikutinya kemanapun dia pergi seperti yang hari itu sedang terjadi, ia mulai merasa jengah dan takut.
Puncaknya, pada hari itu sang gadis kecil berlari ketakutan karena sang pemuja mengejar hendak menyentuhnya. Guru kelas si gadis kecil keruan saja melindungi muridnya. Kebetulan peristiwanya terjadi di depan kelasku. Mendengar keributan, aku keluar dan menerima pengaduan Pak Guru wali kelas si gadis kecil. Ia memintaku berbicara dengan anak lelaki tersebut agar dia berhenti mengejar-ngejar dan menjauhi muridnya agar si murid tenang.
Katanya, ini bukan yang pertama kali terjadi. Dia sudah beberapa kali bicara pada anak lelaki itu tapi kurang manjur rupanya. Menurut rekanku, guru-guru perempuan biasanya lebih mengerti soal-soal perasaan semacam ini *aihh*. Akhirnya aku ajak anak lelaki itu berbicara di dalam kelasku yang kosong.
“Sini, nak … Benar kata Pak Guru kamu mengejar-ngejar si Manis?”
“Iyaaa”, ia menjawab tanpa ekspresi dengan suara beratnya, pertanda puber yang datang terlalu dini akibat obat yang dikonsumsinya.
“Kenapa? Boleh aku tahu? Kamu suka sama dia?”
“Iyaaa”, ia menjawab masih dengan wajah datar. Ya, dia memang tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun.
“Hmmm, kamu naksir dia?”
Ia tidak menjawab. Kali ini wajahnya mulai pias, matanya berkaca-kaca. Ia curi-curi pandang takut-takut pada Pak Guru yang masih disitu mengawasinya. Ia menganggukkan kepala pelan-pelan. Lalu akhirnya menjawab dengan suara berat pubernya itu,
“Aku cinta sama dia.”
“Ohh, kamu cinta sama dia. Iya, iya. Aku mengerti. Pasti kamu cinta sama dia karena dia baik ya?”
“Iyaaa.”
“I see. Dia baik sama kamu?”
“Baik. Dia cantik. Pintar. Rambutnya bagus.”
“Aku mengerti, nak. Tapi kalau kamu mengejar dia seperti itu, dia ketakutan. Akhirnya dia jadi tidak baik lagi sama kamu.” Aku berusaha menjelaskan sepelan-pelan dan sehati-hati mungkin.
“Tapi aku cinta.”
“Iya, aku tahu. Nak, mencintai itu artinya menjaga orang atau sesuatu yang kamu cintai. Nah, sekarang kalau kamu kejar-kejar dan dia ketakutan, itu namanya menjaga atau bukan?”
“Bukan.”
“Kalau dia takut sama kamu, kamu senang?”
“Nggak. Aku sedih.”
“Kalau begitu si Manisnya jangan dikejar-kejar ya. Kamu boleh suka dan cinta sama dia tapi kamu lihat dari jauh saja ya. Jangan dikejar-kejar.” *Sedih! Maaf ya nak, jika aku memintamu hanya menyukai seseorang dari kejauhan saja.*
“Iyaaa.”
“Janji ya?”
“Iyaaa.” ia mulai menutupi mukanya dan menangis.
“Aku cinta dia”, ujarnya terisak-isak.
“Aku tahu. Ini juga kan demi cinta kamu sama dia.”, ujarku sambil menghapus air matanya yang membanjir. Hatiku jadi merasa bersalah.
Sejak hari itu, dia memang tidak pernah lagi membuntuti gadis kecil itu. Ia hanya memandanginya dari jauh. Matanya selalu menyiratkan rindu. Ia tersenyum ketika gadis pujaannya tersenyum dan terlihat khawatir saat gadis pujaannya terlihat ke klinik. Tapi ia tidak pernah mendekatinya lagi. Ia benar-benar memegang janjinya. Demi Cinta.