Nak Comblang #2

6 May

Kali ini giliran seorang gadis kelas 4 yang mencoba menjodohkanku dengan salah seorang pamannya. Dengan gayanya yang bijaksana dia menasihatiku, “Miss, tidak baik lama-lama jadi jomblo. Miss harus punya pasangan biar ada yang mengurusi dan melindungi Miss. Miss kan berhak bahagia, Miss”. Aihh…anak ini memang berbakat puitis deh (Atau sinetronik? Coba klik aja link barusan :D )

Siang itu, tiba-tiba gadis kecil itu datang lagi padaku. Ia tampak gusar sambil geleng-geleng kepala. Dia mengaku mengambil fotoku beberapa waktu lalu dan dia tunjukkan pada pamannya.

“Miss, kayaknya miss harus segera melangsingkan badan deh! Kalau nggak, gawat ini urusannya.”

“Gawat kenapa?”

“Oomku katanya cuma mau sama yang cantik dan badannya seksi aja.” *jewer kuping Oomnya yang mengajarkan kata seksi sama anak perempuan kelas 4 SD. Please deh!*

“Tapi aku kan cantik dan seksi.” *setengah mati menahan ketawa*

“Miss cantik *terima kasihh* tapi jelas-jelas nggak seksi.”

“Oh, memangnya seksi itu apa?”

“Badannya bagus. Nggak kayak Miss, gemuk begini.”

Aku terbahak geli. Kukatakan padanya bahwa aku berterima kasih atas perhatiannya dan bersyukur punya badan yang sehat. Kukatakan juga padanya seseorang itu haruslah dinilai dari hati, pikiran dan sikapnya. Ukuran badan itu bisa dibesar kecilkan, tapi attitude, hati dan pemikiran itu sulit untuk diubah. Dia manggut-manggut, entah mengerti atau tidak.

“Tapi Miss tetap harus melangsingkan badan Miss. Biar sehat dan banyak pilihan jodoh. Ya Miss, Ya?”

Tentu, anakku! Terima kasih atas perhatian tulusmu. :)

 

Nak Comblang #1

6 May

Ada banyak reaksi tak terduga dari murid-muridku saat mereka tahu aku masih single aka jomblo silver (kalau tahun depan masih single juga, naik status jadi platinum sih). Lucunya, kebanyakan reaksi mereka malah ingin menjodohkanku dengan seseorang. Hahaha. Manis sekali ya?

Misalnya pagi itu mendadak seorang anak laki-laki kelas 1 menanyakan berapa jumlah anakku. Ketika kukatakan padanya aku belum punya anak, wajahnya tampak begitu terkejut lalu segera menukas,

“Oh, Ibu belum mau punya anak ya?”

“Bukan, Ibu belum menikah. Jadi Ibu belum punya anak.”

“Aku punya Oom yang mukanya cool tapi belum juga menikah. Nggak tau tu kenapa. Nanti aku kenalin ya sama Ibu.”  :-D

“Mungkin Oom kamu masih muda,  jadi belum menikah. Orang itu sebaiknya sudah dewasa betul baru boleh menikah.”

“Nggak Bu, aku tau dia sudah tua kok. Mama Papa aku aja sering bilang sama Oomku, karena sudah tua dia harus menikah. Jangan kelamaan jadi jomblo. Udah, Ibu tenang aja ya. Nanti kukenalkan!”

Sampai sekarang sudah berlalu lebih dari setahun, tapi Oom Cool belum juga dikenalkan nih, pemirsa. Apa kita tagih aja janjinya? Hahaha.

Bolehkah Aku Menjadi…?

1 May

Anak lelaki berbadan besar itu sepertinya sedang sangat girang. Berkali-kali ia kena tegur karena membuat keributan saat aku sedang menerangkan tugas yang akan dikerjakan anak-anak sore itu. Sesuai kesepakatan peraturan yang dibuat bersama murid-murid di awal tahun ajaran, maka siapapun yang sudah mendapat tiga kali teguran maka harus kembali ke kelasnya untuk ‘konferensi penyelesaian masalah’. Tak ada kecuali termasuk anak ini.

Ketika kusuruh dia kembali ke kelasnya, dia berlari kegirangan ke luar kelas untuk lantas masuk lagi sambil berlarian dan menjerit-jerit girang. Ia mengganggu temannya dengan mencolek kepala temannya. Sepertinya ia sedang sangat ingin bermain.

Aku menegurnya lagi. Kukatakan aku serius dengan perkataanku sebelumnya. Kukatakan juga aku akan menghubungi gurunya untuk memastikan dia kembali ke kelas. Rautnya berubah cepat dan ia segera meninggalkan kelas.

Beberapa menit kemudian dia kembali dengan mata berkaca-kaca dan meminta maaf kepadaku. Kuajak dia ke pojokan meja kerjaku. Kukatakan selembut mungkin bagaimana aku bangga melihat perkembangannya selama 3 termin terakhir dan aku mengharapkannya menjadi lebih baik setiap saat. Ia mengangguk sendu dan tiba-tiba menyodorkan kelingkingnya sambil meminta maaf. Aku tersenyum menyambut kelingkingnya yang lebih besar dari kelingkingku. Anak ini baru kelas 2 tapi tubuhnya tinggi besar. Bahkan ukuran sepatunya sudah nomer 42 *ckckck…anak jaman sekarang*.

Bel tanda waktu pulang sudah berbunyi. Setelah berdo’a bersama, murid-murid segera meninggalkan kelas seni rupa dan kembali ke kelas mereka untuk mengambil tas dan pulang. Tapi anak bernomer sepatu 42 ini tetap duduk di karpet tempat kami berdo’a bersama. Aku bangkit membenahi kelasku dan bertanya sepintas kepadanya, apakah dia tidak ingin segera pulang bersama teman-teman lainnya?

Di luar dugaanku, ia bertanya dengan gayanya yang kekanakan (sebenarnya semua percakapan dalam cerita ini dilakukan dalam bahasa Inggris),

“Bu, seandainya aku tinggal disini, aku boleh jadi anakmu nggak?”

“Kamu memangnya mau jadi anakku?”

“Tentu tidak! Karena Ibu kan guru seni rupaku dan aku juga punya ibu sendiri. Tapi seandainya bisa sih, aku mau…”

Aku tercekat haru memandanginya dan mengucap terima kasih atas keinginannya yang manis itu. Ia cuma tersenyum lalu berlari keluar kelas. Tiba-tiba kepalanya muncul lagi dari balik pintu

“Sampai ketemu Rabu depan ya, Bu! Dadahhh!

Lalu ia berlari lagi namun lagi-lagi kembali,

“Bye bye!”

Lalu ia berlari lagi dan kembali *Hampir saja ia mendapat hadiah piring cantik dariku karena tiga kali pergi dan balik lagi. hehehe*

“Aku akan merindukan ibu sepanjang minggu ini!”

“Kamu kan selalu bisa datang kesini kapan saja?”

“Tapi aku sibuk, jadi aku akan kangen ibu. Aku akan kangen ibu!”

Lalu ia berlari lagi. Anakku itu. Pulang pada ibunya. Teriring do’aku agar hari ini sang ibu lebih memilih memeluk anaknya daripada memeluk peralatan fitness yang dicintainya.

 

Demi Cinta

10 Apr

Kemanapun gadis manis anak kelas 4 itu pergi, anak lelaki itu selalu membuntutinya. Mereka seangkatan namun berbeda kelas. Tidak heran, gadis kecil itu memang baik hati, senang menolong temannya dan hangat pada siapapun. Banyak anak laki-laki yang menyukainya, termasuk anak lelaki dengan kebutuhan khusus (mild autism) yang selalu membuntutinya itu.

Setiap pagi, anak lelaki itu selalu menunggu di tengah sekolah, matanya berjaga untuk memastikan arah datangnya sang pujaan hati. Mulanya, si gadis kecil itu tidak terlalu memusingkan anak lelaki itu. Tapi ketika anak lelaki itu bahkan mulai menunggu di depan toilet perempuan saat dia kesana dan mulai mengikutinya kemanapun dia pergi seperti yang hari itu sedang terjadi, ia mulai merasa jengah dan takut.

Puncaknya, pada hari itu sang gadis kecil berlari ketakutan karena sang pemuja mengejar hendak menyentuhnya. Guru kelas si gadis kecil keruan saja melindungi muridnya. Kebetulan peristiwanya terjadi di depan kelasku. Mendengar keributan, aku keluar dan menerima pengaduan Pak Guru wali kelas si gadis kecil. Ia memintaku berbicara dengan anak lelaki tersebut agar dia berhenti mengejar-ngejar dan menjauhi muridnya agar si murid tenang.

Katanya, ini bukan yang pertama kali terjadi. Dia sudah beberapa kali bicara pada anak lelaki itu tapi kurang manjur rupanya. Menurut rekanku, guru-guru perempuan biasanya lebih mengerti soal-soal perasaan semacam ini *aihh*. Akhirnya aku ajak anak lelaki itu berbicara di dalam kelasku yang kosong.

“Sini, nak … Benar kata Pak Guru kamu mengejar-ngejar si Manis?”

“Iyaaa”, ia menjawab tanpa ekspresi dengan suara beratnya, pertanda puber yang datang terlalu dini akibat obat yang dikonsumsinya.

“Kenapa? Boleh aku tahu? Kamu suka sama dia?”

“Iyaaa”, ia menjawab masih dengan wajah datar. Ya, dia memang tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun.

“Hmmm, kamu naksir dia?”

Ia tidak menjawab. Kali ini wajahnya mulai pias, matanya berkaca-kaca. Ia curi-curi pandang takut-takut pada Pak Guru yang masih disitu mengawasinya. Ia menganggukkan kepala pelan-pelan. Lalu akhirnya menjawab dengan suara berat pubernya itu,

Aku cinta sama dia.”

“Ohh, kamu cinta sama dia. Iya, iya. Aku mengerti. Pasti kamu cinta sama dia karena dia baik ya?”

“Iyaaa.”

I see. Dia baik sama kamu?”

“Baik. Dia cantik. Pintar. Rambutnya bagus.”

“Aku mengerti, nak. Tapi kalau kamu mengejar dia seperti itu, dia ketakutan. Akhirnya dia jadi tidak baik lagi sama kamu.” Aku berusaha menjelaskan sepelan-pelan dan sehati-hati mungkin.

“Tapi aku cinta.”

“Iya, aku tahu. Nak, mencintai itu artinya menjaga orang atau sesuatu yang kamu cintai. Nah, sekarang kalau kamu kejar-kejar dan dia ketakutan, itu namanya menjaga atau bukan?”

“Bukan.”

“Kalau dia takut sama kamu, kamu senang?”

“Nggak. Aku sedih.”

“Kalau begitu si Manisnya jangan dikejar-kejar ya. Kamu boleh suka dan cinta sama dia tapi kamu lihat dari jauh saja ya. Jangan dikejar-kejar.” *Sedih! Maaf ya nak, jika aku memintamu hanya menyukai seseorang dari kejauhan saja.*

“Iyaaa.”

“Janji ya?”

“Iyaaa.” ia mulai menutupi mukanya dan menangis.

“Aku cinta dia”, ujarnya terisak-isak.

“Aku tahu. Ini juga kan demi cinta kamu sama dia.”, ujarku sambil menghapus air matanya yang membanjir. Hatiku jadi merasa bersalah.

Sejak hari itu, dia memang tidak pernah lagi membuntuti gadis kecil itu. Ia hanya memandanginya dari jauh. Matanya selalu menyiratkan rindu. Ia tersenyum ketika gadis pujaannya tersenyum dan terlihat khawatir saat gadis pujaannya terlihat ke klinik. Tapi ia tidak pernah mendekatinya lagi. Ia benar-benar memegang janjinya. Demi Cinta.

Karet Gelang!!

10 Apr

Kedua anak lelaki kelas 1 itu terlibat perdebatan sengit yang berujung pada mulai saling dorong. Bahkan ketika aku melerai keduanya, mereka masih saling mengejek penuh emosi.

“Kamu jahat!!”

“Kamu yang jahat!”

“Kamu jelek kayak monyet!”

“Kamu yang jelek!”

“Kamu tuu!!”

“Kamu!! Dasar Karet Gelang!!”

Lho, kok karet gelang? Aku dan murid yang menjadi lawannya terbengong-bengong. Yang diejek sebagai karet gelang akhirnya malah melupakan marahnya dan bertanya pada si pengejek.

“Iya, kamu kayak karet gelang soalnya bau dan mengerikan!”

Rupanya dia phobia karet gelang. Ya ampun, naaaak!

 

Toilet dan Kloset

4 Apr

Urusan toilet, kloset dan per-downloading-an mungkin kesannya remeh, padahal itu sungguh memengaruhi hajat hidup orang banyak. Suasana toilet yang kurang nyaman atau kloset yang tidak user friendly bisa berbuntut panjang dan mengganggu stabilitas negara *lebay*.

Sewaktu aku kelas 1 SD di sebuah sekolah negeri di bilangan Jakarta Timur, toilet sekolah itu begitu jorok dan bau. Toiletnya terletak di belakang sekolah, klosetnya tipe jongkok,  gelap tanpa lampu dan setiap pojoknya dipenuhi onggokan tinja. Dari jarak 100 meterpun kita sudah bisa dibuat mual oleh semerbak busuknya. Selama setahun aku bersekolah disitu, aku cuma sekali ke toilet itu dan walhasil langsung trauma. Gara-gara enggan ke toilet, waktu kelas 1 SD aku sempat ngompol 2 kali di dalam kelas. Hihihi.

Sampai aku kuliahpun, urusan toilet ini masih sering bikin ilfil. Dari SD sampai kuliah, aku selalu bersekolah di tempat yang toiletnya nggak nyaman. Ada toilet yang pakai kloset jongkok dengan bak, tapi tidak ada gayungnya. Ada yang menggunakan kloset jongkok tanpa bak atau ember, tetapi memakai spray jet. Ini juga tidak nyaman karena sulit untuk disiram jika ada yang buang air besar. Ada lagi yang pakai kloset duduk, tapi tanpa spray jet, bak atau ember dan ternyata tidak disedikan tisu juga. Repot deh.

Di sekolah tempat kerjaku, syukurlah semua toilet cukup terjaga bersih dan nyaman. Klosetnya tipe duduk dilengkapi dengan spray jet dan flush button yang mudah dioperasikan. Wastafel, cermin besar , dispenser sabun pencuci tangan dan bahkan mesin pengering tersedia di setiap toilet. Setiap beberapa waktu, secara otomatis sebuah mesin akan menyemprotkan pewangi.

Hampir semua murid bisa menggunakan toilet sekolah dengan baik, meski kadang-kadang kutemukan juga jejak sepatu mungil di dudukan kloset. Masih ada juga ternyata yang nongkrong di atas kloset duduk meski itu berbahaya. Mungkin di rumahnya, dia masih menggunakan kloset jongkok.  Tapi jangan salah, pengalaman gegar budaya itu tidak hanya dialami oleh jongkok-ers yang berhadapan dengan kloset duduk.

Salah seorang guru agama yang baru saja membawa murid-muridnya menginap untuk sebuah kegiatan di luar menceritakan pengalaman unik seputar urusan toilet. Saat dia menanyakan pengalaman yang paling berkesan bagi murid-murid selama acara tersebut, mereka malah fokus pada urusan “toilet  aneh”.

Rupanya di gedung tempat mereka menginap, hanya tersedia kloset jongkok. Anak-anak yang terbiasa dengan kloset duduk di rumah, sekolah dan mall yang mereka kunjungi rupanya bingung bagaimana cara menggunakannya. Menariknya, hampir semua anak lantas mengambil begitu banyak tisu untuk menutupi pinggiran kloset jongkok, lalu duduk di atas kloset tersebut! :D

Mungkin sudah waktunya kita mengenalkan berbagai jenis kloset untuk potty training anak-anak ya?

Tags:

Misuh #2

3 Apr

Anak perempuan itu baru kelas 4 tapi galaknya minta ampun. Ketika salah seorang anak kelas 5 enggan meminjamkan penghapusnya karena sedang dipakai, anak itu langsung merebut penghapus itu dan memaki temannya

“Pinjam sebentar kenapa sih?!”

“Tapi aku kan sedang pakai penghapus itu…”

“Ah, jangan banyak bacot deh!!”

Ketika kupanggil mendekat ke pojokan kelas, mulutnya mengerucut. Dia pasti tahu alasanku memanggilnya.

“Aku dengar barusan kamu bentak temanmu dengan satu kata yang aku tidak mengerti. Boleh tau kamu dapat kata itu darimana?”

“Dari Mam…eh, tetanggaku, Miss”

“Bacot itu kata yang kasar sekali. Apa kamu tahu itu?”

“Nggak tau Miss…”

“Kalau nggak tahu artinya kenapa kamu pakai kata itu? Kalau ternyata artinya jelek atau menyakiti orang bagaimana?”

“Tapi mamaku suka ngomong begitu juga.”

“Tadi kamu bilang kamu taunya dari tetanggamu?”

“Eh, maksudku mamanya tetanggaku.”

Kadang kita tidak sadar, anak-anak menyerap  perilaku orang dewasa di sekitarnya seperti spons yang dicelupkan ke air. Mereka belum bisa memilih dan memilah yang baik untuk mereka. Kitalah yang harus bijak dalam bertindak dan berkata-kata.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.